Selasa, 06 November 2018

Dulu Pernah Nakal Part-2

Dulu Pernah Nakal Part-2

Mumpung mood lagi enak buat nulis, gue lanjut cerita yang kemarin yaaa. Balik kepertanyaan, sebenernya apasih faktor mereka berani buat “nyoba nakal” dan bisa dibilang kecanduan kemudian susah buat diajak balik ke jalan yang bener? Kenapa gua tanyain gini ? Karena selama gua hidup dan si obos (ridwan putih) masih belum nemuin jawabannya.

Sekarang gue jabarin, banyak yang berpendapat bahwa semua itu terjadi atas beberapa faktor seperti: Pendidikan; Linkungan; Keluarga; dan Agama

1. Pendidikan: seperti yang udah gue ceritain di part sebelumnya, bahwa temen temen gue ini ya rata-rata 1 sekolah. Terus dimana beda pendidikannya ? toh kita sama-sama dapetin ilmu yang sama di bangku sekolahan, guru yang sama, buku bacaan yang sama. Apa karena mereka semua gak TK ? enggak juga. Menurut gue TK ga membentuk kepribadian seseorang. TK hanya membuat anak-anak jadi lebih cepat dalam membaca dan menulis.

2. Lingkungan: kalau faktornya lingkungan, seharusnya gue udah bukan “nyoba nakal” lagi, tp harusnya udah “nakal professional” lah ibaratnya. Karna ya emang lingkungan gue dari dulu gapernah bener. Dari SD pun udah main sama orang-orang criminal yang kejahatannya pun gue bilang gabisa ditolerir lagi.

3. Keluarga: gue bisa bilang ini mungkin faktor yang “sedikit” masuk akal sih, karena ketika kita masih kecil banyak waktu yang kita habiskan dalam sehari ya sama keluarga ini, bisa jadi kepribadian lu dibentuk ya mulai dari sini. Tapi gua sedikit ragu, karena keluarga mana yang ga ngajarin kebaikan? Sampe sekarang gua juga belum nemu ada keluarga yang ngajarin anaknya untuk maling, berantem, dll. Kemudian kalau pada bilang “ya lu enak wan keluarga lu baik-baik aja”. Oke disini gue jelasin, gue hidup dikeluarga yang ga baik-baik aja, ya keluarga gue gapernah harmonis dr gue masih masuk SD sekalipun. Awal masuk SMP keluarga gue akhirnya berhenti dari pertengkaran yg tiada henti. Ya, orang tua gua mutusin buat berpisah untuk selamanya. Gue pindah rumah, ngekos 1 keluarga (bayangin dong 1 kamar diisi 4 orang), kehilangan banyak temen, hampir tiap minggu ga tinggal dirumah, dan sedikit depresi. Tapi gue tetep masih bisa mikir dan membedakan ketika gua ngumpul sama temen-temen dan jauh dari keluarga, mana yang boleh dilakuin dan mana yang engga. Dan kenapa “mereka” yang notabenenya keluarganya baik-baik aja, ada yang dari keluarga orang kaya, sederhana sampai misqueen sekalipun bisa terjerumus kedalam lubang kenakalan?

4. Agama: Oke gue bisa dibilang juga “sedikit setuju” sama yang berpendapat ini. Karena selain dari keluarga, pola pikir dan kepribadian kita juga ibaratnya dibatesin sama nilai-nilai agama. Mungkin ini cuman berpengaruh sama segelintir orang menurut gue. Kenyataannya, tetep ada temen gue yang bisa dibilang agamanya “bagus” ketimbang gue dan yang lainnya tapi tetep aja kelakuannya rusak. Bahkan, setelah gue memasuki dunia perkuliahan, orang-orang ini yang masa kecilnya terjebak dalam kondisi “nyaman” karna belum merasakan merantau. Ketika kuliah “orang-orang ini” cenderung merasa kaget ketika “bebas”, hal yang ga didapet ketika mereka masih kecil dulu.

Kesimpulannya, setelah gue berbincang panjang lebar sama si obos (Ridwan Putih), kita menyadari memang faktor diatas pun hampir semuanya berpengaruh tp dalam porsi yang tidak besar. Namun ada 1 faktor yang menurut gue turut andil besar dalam proses kenakalan seseorang, yaitu tingkat kecerdasan seseorang. Kemampuan orang untuk berfikir bahwa apa yang mereka lakukan akan berdampak apa nantinya, Kemampuan orang untuk berfikir bahwa apa yang dilakukan nantinya akan merugikan diri sendirikah atau merugikan orang lainkah, dan Kemampuan orang untuk berfikir bahwa suatu hal yang salah tidak bisa dibenarkan dengan apapun caranya.
Akhirnya kami membereskan meja dari sisa-sisa tumpahan kopi yang kami minum, juga abu rokok yang berterbangan kesana kemari dan tertawa. Namun bila saat berpisah tlah tiba, oke jangan dilanjut nyanyinya, suara lu fals.

“Bos gue cabut dulu ya”
“Oke wan, tiati, kapan kapan kita ketemu lagi!”
Dan percakapanpun berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar