Dulu Pernah Nakal Part-2
Mumpung mood lagi enak buat
nulis, gue lanjut cerita yang kemarin yaaa. Balik kepertanyaan, sebenernya
apasih faktor mereka berani buat “nyoba nakal” dan bisa dibilang kecanduan
kemudian susah buat diajak balik ke jalan yang bener? Kenapa gua tanyain gini ?
Karena selama gua hidup dan si obos (ridwan putih) masih belum nemuin
jawabannya.
Sekarang gue jabarin, banyak yang
berpendapat bahwa semua itu terjadi atas beberapa faktor seperti: Pendidikan;
Linkungan; Keluarga; dan Agama
1. Pendidikan: seperti yang udah
gue ceritain di part sebelumnya, bahwa temen temen gue ini ya rata-rata 1
sekolah. Terus dimana beda pendidikannya ? toh kita sama-sama dapetin ilmu yang
sama di bangku sekolahan, guru yang sama, buku bacaan yang sama. Apa karena
mereka semua gak TK ? enggak juga. Menurut gue TK ga membentuk kepribadian
seseorang. TK hanya membuat anak-anak jadi lebih cepat dalam membaca dan
menulis.
2. Lingkungan: kalau faktornya
lingkungan, seharusnya gue udah bukan “nyoba nakal” lagi, tp harusnya udah “nakal
professional” lah ibaratnya. Karna ya emang lingkungan gue dari dulu gapernah
bener. Dari SD pun udah main sama orang-orang criminal yang kejahatannya pun
gue bilang gabisa ditolerir lagi.
3. Keluarga: gue bisa bilang ini
mungkin faktor yang “sedikit” masuk akal sih, karena ketika kita masih kecil
banyak waktu yang kita habiskan dalam sehari ya sama keluarga ini, bisa jadi
kepribadian lu dibentuk ya mulai dari sini. Tapi gua sedikit ragu, karena
keluarga mana yang ga ngajarin kebaikan? Sampe sekarang gua juga belum nemu ada
keluarga yang ngajarin anaknya untuk maling, berantem, dll. Kemudian kalau pada
bilang “ya lu enak wan keluarga lu baik-baik aja”. Oke disini gue jelasin, gue hidup
dikeluarga yang ga baik-baik aja, ya keluarga gue gapernah harmonis dr gue
masih masuk SD sekalipun. Awal masuk SMP keluarga gue akhirnya berhenti dari
pertengkaran yg tiada henti. Ya, orang tua gua mutusin buat berpisah untuk selamanya.
Gue pindah rumah, ngekos 1 keluarga (bayangin dong 1 kamar diisi 4 orang), kehilangan
banyak temen, hampir tiap minggu ga tinggal dirumah, dan sedikit depresi. Tapi
gue tetep masih bisa mikir dan membedakan ketika gua ngumpul sama temen-temen
dan jauh dari keluarga, mana yang boleh dilakuin dan mana yang engga. Dan
kenapa “mereka” yang notabenenya keluarganya baik-baik aja, ada yang dari
keluarga orang kaya, sederhana sampai misqueen sekalipun bisa terjerumus
kedalam lubang kenakalan?
4. Agama: Oke gue bisa dibilang
juga “sedikit setuju” sama yang berpendapat ini. Karena selain dari keluarga, pola
pikir dan kepribadian kita juga ibaratnya dibatesin sama nilai-nilai agama.
Mungkin ini cuman berpengaruh sama segelintir orang menurut gue. Kenyataannya,
tetep ada temen gue yang bisa dibilang agamanya “bagus” ketimbang gue dan yang
lainnya tapi tetep aja kelakuannya rusak. Bahkan, setelah gue memasuki dunia
perkuliahan, orang-orang ini yang masa kecilnya terjebak dalam kondisi “nyaman”
karna belum merasakan merantau. Ketika kuliah “orang-orang ini” cenderung
merasa kaget ketika “bebas”, hal yang ga didapet ketika mereka masih kecil
dulu.
Kesimpulannya, setelah gue
berbincang panjang lebar sama si obos (Ridwan Putih), kita menyadari memang
faktor diatas pun hampir semuanya berpengaruh tp dalam porsi yang tidak besar.
Namun ada 1 faktor yang menurut gue turut andil besar dalam proses kenakalan
seseorang, yaitu tingkat kecerdasan seseorang. Kemampuan orang untuk berfikir
bahwa apa yang mereka lakukan akan berdampak apa nantinya, Kemampuan orang
untuk berfikir bahwa apa yang dilakukan nantinya akan merugikan diri sendirikah
atau merugikan orang lainkah, dan Kemampuan orang untuk berfikir bahwa suatu
hal yang salah tidak bisa dibenarkan dengan apapun caranya.
Akhirnya kami membereskan meja
dari sisa-sisa tumpahan kopi yang kami minum, juga abu rokok yang berterbangan
kesana kemari dan tertawa. Namun bila saat berpisah tlah tiba, oke jangan
dilanjut nyanyinya, suara lu fals.
“Bos gue cabut dulu ya”
“Oke wan, tiati, kapan kapan kita ketemu lagi!”
Dan percakapanpun berakhir.
“Oke wan, tiati, kapan kapan kita ketemu lagi!”